Selasa, 17 September 2013

Maafkan Ayah Nak

Malam ini ayah terpaksa memukul bagian belakangmu pakai pipa kardus. Ayah tidak ingin Kamu tinggalkan sholat. Setelah jadi pendidik 27 tahun, baru kali ini ayah menghukum dengan pukulan. Malah dirimu yang terpaksa kena pukul. Ini benar-benar terpaksa demi kebaikanmu. Lihatlah, ada garis lurus bekas pukulan ayah di kulitmu. Itu membentuk angka satu yang amat lurus dan tegas. Hanya itu yang ayah harap kamu sadari seumur hidupmu. Ajaran tauhid saja, tiada lain. Seperti yang ada di namamu "Tauhidia". Thalia Zahra Tauhidia. Artinya: bunga yang mekar dan tetap setia dengan ajaran Tauhid.... (Ungkapan di atas adalah statusku di Facebook pada 26 Agustus 2013 dan hingga 11September 2013 memeroleh 61 LIKE dan banyak komentar dukungan)  

Ini Saat Terbaik

Lambat atau cepat kita akan sampai
Jangan tunda kebaikan; jangan tunda kekhusyukan
Walau selalu ada hari esok; belum tentu untuk kita
Ini saat terbaik; gunakan dengan baik

Penyakit Orang Berilmu

Waspadalah para cendekiawan dan ulama. Kalau kita merasa berilmu, hendaknya rendah hati membawakan ilmu itu dan sabar dalam memerjuangkannya. Salah satu penyakit orang yang merasa berilmu adalah kesombongan. Padahal, kesomongan itu hanya hak Tuhan Yang Mahakuasa. Jika masih sombong, dia belum cukup berilmu dan tidak tahu bahwa ilmu manusia hanya sedikit. Penyakit yang lain adalah tergesa-gesa untuk mewujudkan keinginan agar ilmunya dipakai orang banyak. Ketahuilah, jika Tuhan ingin, mudah sekali membuat manusia menurut. Orang yang merasa berilmu namun tergesa-gesa seperti itu, pertanda dia belum tahu tugas yang sesungguhnya harus diemban oleh orang berilmu.

Orang Sukses

Orang sukses adalah orang yang berhasil mengalahkan nafsunya, menaklukkan iblis, membekuk syaitan, dan memeroleh cinta dan ampunan dari Tuhan. Ia bekerja karena iman dan beristirahat juga karena iman, ia perjuangkan amanat Tuhan, ia cerdaskan orang-orang bodoh, ia santuni orang-orang miskin, dan ia sejahterkan orang banyak. Ia suka kedamaian dan senang bekerja untuk perdamaian. Ia menjaga alam dan memeroleh manfaat besar dari alam. Ia tidak perlu berusaha menjadi kaya karena dinia dan akhirat sudah diberikan Tuhan untuknya. Tiada lagi kekayaan yang melebihi kekayaannya.

Pelajaran Kehidupan

RESEP BERTOLERANSI (UNTUK KEHARMONISAN KEHIDUPAN SOSIAL)
Mari belajar bertoleransi secara nyata (dalam praktik kehidupan kita)
1. Hormati hak dasar (asasi) orang lain dan perjuangkan hak dasar sendiri
2. Tunaikan kewajiban pribadi dan motori penunaian kewajiban bersama
3. Kurangi/tekan keangkuhan untuk memuaskan hak yang tidak asasi
HAK ASASI mestinya dipahami sebagai hak-hak pribadi karena keperluan kesehatan dan hak-hak lain yang dijamin oleh agama, negara, dan budaya. Bukan hak semau-maunya untuk pemuasan nafsu dan bisnis. Hak yang semau-maunya itu bukan hak asasi.
MISALNYA, ada orang lain tidak suka jika ada yang kentut atau meludah sembarangan; maka jangan kentut atau meludah sembarangan. Jika ada yang punya hobi setengah telanjang di depan umum sementara ada agama yang melarang oenganutnya melihat tubuh terbuka orang lain; maka jangan lakukan telanjang atau setengah telanjang di depan umum. Setiap orang masih punya kebebasan untuk telanjang di rumah masing-masing. Jika ada orang yang punya kepuasan ibadah pribadi dengan pamer (visual, suara, dll.) dan ada orang lain yang terganggu karena mereka juga ingin beribadah tanpa gangguan suara; maka jangan pamer ibadah. Jika ada yang hobi merokok tetapi orang lain terganggu, merokoklah di tempat yang tidak mengganggu orang.